Kamis, 24 Juni 2010

Tetaplah Dihatiku, (1)

hei bloggeries
coba dibaca yak.
maaf kalau jelek.
soalnya baru pertama kali.
hehe
------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak seperti biasanya, pagi ini aku datang terlambat ke sekolah. Aku berlari terburu-buru menghampiri pintu gerbang yang hampir tertutup.

“pagi pak.” salamku ke pak satpam yang masih bengong melihat berlari cepat.
“pagi dik.” Jawabnya sambil tersenyum.

“aduh, mudah-mudahan guru killer belum masuk ke kelas.Amiinn.”harapku cemas.

Aku terus berlari menyusuri lorong-lorong sekolah, setelah cukup jauh berlari, sampailah aku didepan kelas yang bertuliskan X.2 . Aku bergegas mengintip dibalik pintu, dan mengecek keberadaan Pak Hans, guru b.indonesia.

“heh? Ngapain lo ngintip dibalik pintu.”tegur seseorang yang sontak bikin aku kaget.
“astaghfirullah aladzim”Aku ngucap.
“ngapain lo disitu, nada?”tanya seseorang. Oh iya, namaku Nada Cyntia, dan biasa dipanggil Nada.
“Tania? Aduuh. Gue kira lu pak hans. Untung saja Allah SWT masih melindungi hambanya dari kejaran setan yang terkutuk.”ucapku lega dengan kehadiran temenku yang bernama Tania.
“ngomong apaan lo tadi? Gue kasih tau pak hans loh, biar lo dibejek-bejek sama dia.”kata Tania.
“jangan donk. Gue gak sengaja.”ucapku memohon.
“haha, tampang lo udah kayak orang dikejar setan. Hhahaha.. uhuuk.” ketawa tania puas sampai-sampai dia terbatuk.
“sukurin lo, makanya jangan bikin orang spot jantung.”ucapku sambil berjalan menuju tempat duduk dan disusul oleh Tania dibelakang. Segera gue taruh tas, lalu duduk, dan menghela nafas.
“huh.”
“tumben lo telat? Gak biasa-biasanya lo kayak gini.Oia, pak hans, hari ini gak ngajar. Dia termasuk guru yang menemani kakak kelas kita yang mewakili sekolah di ajang olympiade bahasa indonesia.”jelas Tania.
“serius lo? Yah. Percuma deh gue ngabisin tenaga.”pasrahku.
“haha. Eh, lo belum jawab pertanyaan gue tadi.”protes Tania
“oh iya, gue lupa. Jadi gini, gue keasyikan baca novel favorite gue sampai larut malam yang judulnya “Tetaplah Dihatiku” karyanya penulis novel terkenal bernama Nadya Kifta Apriani. Ntah kenapa gue suka banget sama tuh cerita, novel itu menceritakan tentang cewek yang ditinggalin cowoknya yang sangat dia cintai. Huaaa, gue terharu banget ngebaca nya. Tapi jangan sampai kisah itu terjadi sama gue. Amit-amit.” Jelasku.
“oo, begitu” responnya.
“eh, gue mau liat jawaban pr matematika yang nomor 2,3,4,5 tan. Gue nyerah ngerjainnya. Gak bisa mulu.”mintaku.
“ah, elo, masa Cuma ngerjain nomor 1 doang. Pasti lo males ngerjainnya. Nih!” ucapnya sambil menyerahkan bukunya kepadaku.
“sangkyu.”
Selama 1 jam penuh, aku sibuk berkutat dengan pr yang seharusnya itu adalah latihan, namun gara-gara belum selesai, akhirnya dijadiin pr.
Teeettt…teett. Bel berbunyi dan berpapasan dengan itu juga, pr aku selesai. Dan lansung mengumpulkannya kepada wakil ketua kelas.

“beuh. Capek tangan gue. Ditambah pelajaran seni pula abis ini.”keluhku.
“Kawan-kawan, ada tugas dari ibu Siti nih.” Teriak ketua kelas X.2 , zaki tiba-tiba dan dia berhasil menghipnotis aku dan temen-temenku agar diam dan memperhatikannya berbicara.
“apaan?” ucap Dila. Temen sekelas yang cukup dekat denganku dan Tania.
“kita disuruh buat tugas kelompok, menggambar sketsa taman gitu. Terserah kita modelnya kayak apa. Jangka waktunya 2 minggu. Oh iya, kelompoknya udah dibagi oleh ibu Siti nih. Gue sebutin ya. Tapi kalian diam. Gak akan gue sebutin dua kali. Mulut gue capek.”jelas zaki.
Zaki pun selesai menyebutkan nama dari masing-masing Grup. Ternyata, aku termasuk digrup B yang beranggotakan Tania, Dila, Doni, Asfar. Aku senang banget saat tau, Tania masuk ke kelompok aku. Kami dengan segera merencanakan tempat pengerjaannya.
“dimana nih kita ngerjainnya?”tanya Tania.
“dirumah gue aja, tan. Gue juga punya kakak yang pinter banget ngambar. Siapa tau dia bisa bantu kita. Iya gak?”tawar Dila.
“you’re serious? Mau nampung kita?”tanya Doni ngasal.
“bahasa lo kayak apaan dah.” Ucap Asfar.
“oke deh, kita ngerjainnya dirumah lo aja dil. Ngerjainnya besok aja ya, kan hari minggu tuh.”kataku.
“iyaa. Setuju-setuju. Lagipula gue lagi gak ada kerjaan.”sahut Tania dan dapat anggukan dari Doni dan Asfar.
“oke, jam 8 pagi ya. Gue tunggu.” Ucap Dila.

Setelah selesai berbincang-bincang, kami pun bubar dan memulai dengan aktivitas masing-masing. Tak lama itu, bel berbunyi 3 kali. Kami langsung loncat kegirangan saat mendengarnya, yaps. Bel 3 kali bertanda pulang. Ternyata hari ini ada rapat guru, jadi, murid-murid diperbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing.

Saat didepan gerbang
“nad, gue pulang duluan yak.”pamit Tania.
“iya. Titi dj”
Tania yang dijemput duluan oleh sopirnya pun pulang.Dan kini tinggal Nada sendiri yang masih menunggu sopirnya menjemput dia. Namun, tiba-tiba telfon gengam (HP) Nada berbunyi. Nada melihat layar hp nya.

Calling….
Pak Bedu – sopir gue

Nada menekan tombol “YA” dihp nya.

“halo pak?”sapaku.
“halo non, maaf ya non, bapak gak bisa jemput non, ibu minta tolong bapak untuk nganterin ibu ke tempat arisan. Jadi non, pulang sama kak Rio dulu ya. Gapapa kan non?”jelas pak Bedu.
“hah? Kak Rio? Kak rionya udah pulang duluan pak.”
“nah? Jadi gimana non?”tanyanya balik.
“Hmm. Ya udah deh. Nada jalan sendiri aja.”raut mukaku pun langsung berubah seperti kertas yang dilipat empat.
Telpon pun ditutup.
“hah? Gue disuruh pulang sendiri? Naik angkot? Takut ah. Hmm. Jalan kaki aja deh, kan lumayan deket tuh, jarak rumah dengan sekolah.”

Nada mulai berjalan menyusuri trotoar jalan. Tapi, ada sesuatu yang terjadi..

0 stories: