Ini cerita pertama punyaku :D mungkin kalau ada temannya caca ngeliat cerpen ini, pasti mereka menduga ini cerita punya caca -_____- (emangnya ada apa yang mau bacaaaaa?? -___- ) ITU SALAH BESAR ! ini ceritaku, waktu itu caca minta aku buatin cerpen untuk tugasnya -,- dan ternyata aku bisa buat cerpen ALHAMDULILLAH YA . SESUATU BANGET HAHAA. walaupun agak gak nyambung diawalannya. tapi gapapa lah . semoga kalian menikmatinya :D
[CERITA DIMULAI]
Ada seorang perempuan bernama lengkap Dina Andarnisa, Teman-temannya sering memanggilnya Dina. Dina mempunyai seorang sahabat bernama Tania. Dina dan Tania selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak di Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Dina dan Tania sangat dekat. Mereka selalu berbagi suka dan duka bersama. Hingga pada suatu hari terjadi sesuatu diantara mereka.
[CERITA DIMULAI]
Ada seorang perempuan bernama lengkap Dina Andarnisa, Teman-temannya sering memanggilnya Dina. Dina mempunyai seorang sahabat bernama Tania. Dina dan Tania selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak di Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Dina dan Tania sangat dekat. Mereka selalu berbagi suka dan duka bersama. Hingga pada suatu hari terjadi sesuatu diantara mereka.
Hari Kamis pagi, Dina berangkat ke sekolah diantar ayahnya seperti biasa, Saat berada didepan gerbang, Dina bertemu dengan Tania. “Hai Tania” sapa Dina dengan ceria. “Hai” sapa Tania. Namun dari raut mukanya tidak seperti biasanya. “Kau kenapa? Kalau ada masalah, cerita saja denganku, aku siap mendengarkan ceritamu, Tan” kata Dina. “Aku tidak apa-apa. Uruskan saja urusanmu sendiri. Tak usah pedulikanku lagi” jawab Tania sambil berlari meninggalkan Dina. “Maafkan aku Din, aku terpaksa melakukannya” ucap Tania dalam hati sambil sedikit terisak.
Dina masih terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. Dina tidak menyangka kalau Tania tega menyakiti perasaan dirinya. Dina pun melanjutkan perjalanan ke kelasnya. Dina masih memikirkan kejadian yang dialaminya barusan dan jantung Dina pun masih berdegup kencang.
Ketika sampai di depan kelas, Dina melihat Tania sudah berada di dalam kelas. Dina masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Tapi Dina bingung bahwa Tania tidak duduk disebelah Dina. Tania menghampiri tempat duduk Keisya. Dina sedikit mendengar pembicaraan Tania dan Keisya. Dina mendengar sekilas pembicaraan mereka. “Kei, aku duduk ditempatmu ya? Hari ini saja. Kau duduk disebelah dia ya?” mohon Tania. “ada apa? Kan tak seperti biasanya kau mau duduk disini?”tanya Keisya. “si itu tuh.” Ucap Tania sambil menunjuk sedikit kearah Dina. “Oh. Baiklah. Tapi hari ini saja ya” Keisya menyetujuinya. “Oke” Tania akhirnya duduk ditempat Keisya. Dan Keisha duduk tepat disamping Dina. Keisya duduk dan berkata “aku duduk disini ya. Hari ini saja. Bolehkan,din?” Dina mengangguk tanda setuju. Tidak beberapa lama kemudian, Ibu guru Bahasa Indonesia datang untuk memulai pelajaran pertama hari Kamis ini.
Sejak saat didepan gerbang pagi tadi, Tania sama sekali tidak menegur Dina. Ketika istirahat pun juga tidak menegur dan mengajak Dina ke kantin. Tania pergi ke kantin bersama teman yang lain. Istirahat kali ini, Dina hanya duduk mantap dibangkunya. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, dengan cepat Dina menghampiri Tania yang akan keluar kelas dan menarik paksa tangannya. “Tan, kamu kenapa sih? Hari ini kamu aneh sekali! Kamu tidak biasanya seperti ini” tanya Dina sedikit emosi. Tiba-tiba Tania berlari menjauhi Dina, tanpa menggubris perkataan Dina tadi.
Akhirnya Dina pulang dengan raut muka sedih. Dina merasa kehilangan sahabat yang selalu ada untuknya namun tiba-tiba hari ini menjauhi Dina dengan tanpa alasan. Siang ini Dina tidak langsung pulang ke rumah, Entah ada sesuatu yang membuat Dina sedikit malas pulang ke rumah. Dina pun memutuskan pergi dulu ke suatu taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Dina dan rumah Tania. Tamannya sangat indah. Dina dan Tania sering sekali datang ketaman ini. Kami menyebutnya Taman Bintang. Dulu, Dina dan Tania sering datang kemari. Banyak kenangan yang tersimpan disini. Namun Dina dan Tania telah cukup lama tidak kesini lagi. Akhir-akhir ini Dina dan Tania sangat sibuk sehingga susah untuk menentukan waktu datang kesini lagi.
Dina duduk di salah satu bangku taman. Dina masih berpikir tentang kejadian tadi pagi. Dina masih bingung kenapa Tania bisa berbuat seperti itu. Dina langsung berpikiran yang negatif. ”Apa Tania ingin menjauhiku? Apakah ia telah memiliki sahabat baru yang lebih baik dariku?huh!” desah Dina.
Dina merasa, hari ini Dina harus memecahkan masalah ini. Dina beranjak dari tempat duduknya lalu dia berkata “Cukup, aku akan kerumah Tania!” ucap Dina keras, Dina tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu-lalang melihat Dina dengan tatapan aneh. Tapi sebelum Dina pergi ke rumah Tania, Dina ingin menelpon mamanya dahulu karena Dina takut mamanya akan khawatir dengan Dina karena anaknya belum pulang dari tadi. Dina langsung mengambil ponselnya dan mencari kontak “MAMA” lalu Dina menekan tanda memanggil diponselnya. “Halo? Mama? Ma, Dina pulangnya agak telat ya, Dina mau kerumah Tania dulu” Sambungnya. “Iya, tapi jangan sampai sore benar pulangnya” Jawab mama Dina. “Iya ma, Dada” Dina pun langsung menutup panggilan dan menaruh kembali ponselnya.
Dina segera berjalan menuju kerumah Tania, yang masih memakai seragam sekolah bermotif kotak-kotak warna biru, beserta rompi warna hitam dan dilengkap dengan tas sekolah yang masih setia berada dipunggungnya.
Tidak terlalu jauh Dina berjalan, kini Dina sudah berada didepan pagar rumahnya Tania. Rumahnya terlihat sepi. Saat Dina hendak membuka pintu pagar rumah itu, ada seorang ibu tua menghampiri Dina.“Nak? Mencari siapa?” Tanya ibu itu kepadanya. “Saya mencari Tania, bu. Anak dari pemilik rumah ini” Ucapnya. “Bukannya pemilik rumah ini baru saja pindah nak? Tadi baru saja pergi. Kamu tak melihat mobilnya pergi?” ucap ibu itu. “Apa? Aku tak salah dengar? Ibu pasti hanya berpura-pura. Lagi pula aku tidak melihat mobilnya. Aku sungguh tidak percaya” Ucap Dina tidak percaya.”Percaya atau tidak, terserah padamu, nak. Yang penting ibu sudah memberitahukanmu” Ucap ibu itu lalu meninggalkanku,
Dina masih bingung dengan sikap Tania yang aneh. “apa ini alasannya kau menjauhiku, tan? Kau tak mau memberitahu sahabatmu ini? Apa kau berfikir dengan cara ini aku bisa melupakanmu dengan cepat? Tidak! Itu tidak benar, tan” Teriak Dina di depan rumah Tania.
Dina pulang ke rumah masih dalam keadaan shock dan pikiran yang masih penuh dengan tanda tanya tentang sikap Tania. Kata-kata ibu tua tadi masih terngiang-ngiang dibenak Dina. “Teganya kau Tan…nia. Hiks.hiks” ucap Dina terisak. Dina terus menangis sampai Dina berada didepan pintu rumahnya. Dina segera menyeka air matanya. Pintu rumah yang tertutup rapat segera di bukanya. Krek.. Sejenak Dina melihat ruang dalam begitu gelap. Tiba-tiba lampu menyala.
“SUPRISEEEEEEEEEEE….” Dina terkejut, hampir saja Dina terlonjat kebelakang karena kagetnya. Mama dan Papa Dina lalu teman-teman kelas Dina ada semua disana. Saat itu Dina hanya bisa terdiam seperti orang tolol ditengah keramaian pesta ulang tahun dengan orang-orang sedang bernyayi “Happy birthday to you” untuk Dina. Dina baru sadar, kalau hari ini tepat tanggal 27 Mei dan tepat hari dimana Dina terlahir didunia ini 16 tahun yang lalu. Seutas senyum mengembang diwajah Dina, tapi ada yang kurang dari pesta ini. Ya, sahabat Dina.
Yang pertama kali mengucapkan salam adalah orang tua Dina. “Selamat ulang tahun anakku” Dina senang sekali. Lalu dilanjutkan dengan teman-teman sekelas Dina, dan ada sesuatu yang lucu ternyata teman-teman Dina mengucapkan selamat ulang tahun kepada Dina sesuai dengan absen di kelas. Dari teman-temannya yang berabjad A sampai Z sudah bersalaman dan mengucapkan kata “Selamat ulang tahun” kepada Dina. Namun, ternyata setelah teman Dina yang berabjad Z selesai menyalami Dina, ada seseorang bertubuh tinggi, putih dan berambut panjang yang berjalan menghampiri Dina. Dina pun kaget. “Kau menangisiku?hah? cengeng sekali” Sindir seseorang itu. “kau?” Dina masih tak percaya, orang yang ada didepan Dina adalah seseorang yang dikira telah meninggalkan Dina. “ada apa denganku? Apa kau sudah lupa dengan orang yang baru saja meninggalkanmu pergi? Berarti kau cepat sekali melupakan seseorang ya.”ucap seseorang itu tanpa rasa bersalah. Dina tidak menghiraukan perkataan orang itu lagi, Dina segera memeluknya erat.
“TANIAAAAAAAAA, kukira kau pergi meninggalkanku. Jadi ini hanya sandiwara? Jahat sekali kau” Kata Dina jengkel. “Haha, kau mudah sekali dijebak ya” sindir Tania lagi. “Jadi? Saat digerbang tadi? Dikelas? Ibu tua itu? Itu akal-akalanmu saja?” katanya. “ Ya begitulah. Kukira kau tahu kalau ini sandiwara belaka. Ternyata tidak. Hahaha.. Hei, lepaskan pelukanmu ini, kau membuatku tak bisa bernapas ” Kata Tania. Dina segera melepaskan pelukannya. Dina hanya bisa nyengir kuda. “ Kau berhasil membuatku shock, kau tahu?” ucap Dina sambil memukul lengan tangan Tania. “Tak apalah, aku hanya menge-test-mu saja. Lagi pula kau lupa ya kalau hari ini hari kelahiranmu?“ ucap Tania. “Aku lupa. Hehe. Aku kan akhir-akhir ini sedang sibuk. Seperti kau tak tahu saja” Jawab Dina. “Oh iya, Selamat ulang tahun Dina, sahabatku. Aku selalu berharap untukmu yang terbaik” ucap Tania sambil tersenyum. “Terima kasih, Tan. Kau adalah sahabatku yang terbaik selamanya. Jangan pernah meninggalkanku. Kau harus berjanji” Kata Dina. Tania pun mengangguk dan tersenyum.
Dina dan Tania terlalu asyik mengobrol sampai-sampai mereka tidak menghiraukan teman-teman yang sedari tadi sudah mengitari mereka berdua. Setelah sadar baru terlihat 30 pasang mata melihat mereka dengan tatapan yang tidak bisa ditebak, antara senang, sedih, khawatir, sekaligus merasa kasihan terhadap Dina yang dari sekolah tadi sudah dikerjain habis-habisan oleh Tania. Acara tangis-tangisan pun berakhir, dilanjutkan dengan pesta ulang tahun yang meriah. Tapi sebelum itu. “kau bau sekali, din” kata Tania. “dari mana saja kau ini, hah?”sambung Tania. “seperti yang sudahku beritahu tadi. Aku kerumahmu, tapi ibu itu bilang kau pergi. Kau bayar berapa ibu tua itu, hah?” ucap Dina. “jangan asal bicara. Aku tak membayar ibu itu” Kata Tania “ Asal kau tahu, tan. Ini adalah ulang tahun terbaikku” ucap Dina.
Dina mengklik kata “TERBITKAN ENTRI”. Tidak harus lama Dina menunggu, entri miliknya langsung terpost di blogger pribadi milik Dina. Tertulis disana “Jangan pergi dariku” sebagai judul dari postinganya. Dina langsung mengeluarkan akun miliknya. Dina melihat jam dinding dikamarnya, telah menunjukkan pukul 10 malam.
“wah, sudah jam segini. Tidur ah, takutnya besok aku telat masuk sekolah. Apalagi besok guru yang mengajar menakutkan sekali” Dina menggidik ngeri. Segera Dina matikan laptop miliknya, lalu mengambil posisi tidur yang nyaman, dan tak lama itu mata Dina segera terpejam rapat.

